Setelah PILPRES 2014
Opini :
Indonesia
sudah melewatkan pesta demokrasi besar pada 9 Juli 2014 lalu yaitu pemilihan
presiden dan wakil presiden Republik Indonesia,keluar sebagai pemenang yaitu
pasangan calon presiden nomor urut 2
Joko Widodo- Jusuf Kalla . Masing-masing dari kedua pasangan calon ini
didukung oleh koalisi Merah Putih(KMP) dan Koalisi Indonesia Hebat(KIH) ,meskipun
di parlemen kursi KMP lebih banyak dibandingkan KIH nyatanya Jokowi-Jk yang
diusung oleh Koalisi Indonesia Hebat meraih 70.997.833 suara (53,15%) berhasil mengungguli calon nomor urut 1
Prabowo Subianto-Hatta Rajasa yang meraih suara 62.576.444(46,85%) pasangan
calon yang diusung oleh Koalisi Merah Putih.
Tahun 2017 ini adalah tahun ketiga Jokowi-Jk memerintah dan memimpin
Indonesia,meskipun sudah 3 tahun yang lalu pesta demokrasi berlangsung ternyata
hingga kini masih menyisakan persoalan antara kedua kubu simpatisan,bahkan
akhir-akhir menjelang pilkada DKI Jakarta kemarin puncaknya terasa panas bisa
dibilang pilkada DKI ini kelanjutan dari pertarungan pilpres 2014, banyak
perang opini yang terjadi di media sosial,sampai keluar istilah “kafir” untuk
mencap salah satu paslon lainnya. Salah satu calon gubernur DKI Jakarta yaitu Anies Baswedan adalah mantan
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada awal pemerintahan Jokowi yang dibebastugaskan
kemudian didekati oleh ketua umum sekaligus ketua dewan pembina partai Gerindra
Prabowo Subianto dan diusung sebagai calon gubernur,seperti yang kita ketahui
setelah tersisihnya pasangan calon nomor urut satu Agus-Sylvi dan dilakukan
pilkada putaran kedua, pada putaran kedua ini kebanyakan pendukung paslon
gubernur nomor urut 3 Anies-Sandi adalah orang-orang yang berada di lingkaran
Prabowo pada pilpres 2014 yang lalu begitu juga sebaliknya yang berada di
lingkaran Ahok-Jarot kebanyakan pendukung Jokowi-Jk(opini penulis), tetapi ada fakta menarik
masalah pilkada DKI, dikutip dari halaman berita detik.com yang berjudul Buka Peran JK di Pencalonan Anies, Zulkifli
Dikirimi Karangan Bunga(05/5/17) ternyata terpilihnya Anies Baswedan
disebut ada upaya intervensi dari dari Jusuf Kalla wakil presiden yang
mendampingi Jokowi saat ini, apakah ke depannya KIH yang solid pada pilpres
2014 lalu terindikasi akan pecah? Tentu ini jadi urusan para politikus yang
berkepentingan dalam membentuk peta politik pada pilpres 2019 nanti dan sudah
seharusnya dipersiapkan dari sekarang.
Dari pantauan media dan hasil hitung
cepat yang dilakukan oleh berbagai lembaga survey ternama pada pemilihan kepala
daerah Daerah Khusus Ibukota Jakarta 15 Februari 2017 lalu yang berhasil keluar
sebagai pemenang adalah pasangan calon nomor urut 3 yaitu Anies
Baswedan-Sandiaga Uno,kemenangan ini kemudian diperkuat oleh keputusan Komisi
Pemilihan Umum DKI Jakarta pada 5 Mei lalu yang menetapkan Anies Baswedan dan
Sandiaga Uno sebagai gubernur terpilih 2017-2022 kemenangan ini menandakan
Prabowo sudah menancapkan kukunya di ibukota sebagai persiapan menghadapi
pilpres 2019 nanti, hal pertama yang saya simpulkan kemenangan Anies-Sandi
adalah kemenangan yang wajar dan pertarungan ini bisa dimenangkan karena
warga DKI adalah pemilih yang cerdas
melihat program yang dikampanyekan dari pasangan ini cukup menjanjikan untuk
kesejahteraan warga DKI sendiri,kemudian ada rasa ketertarikan untuk mengikuti
mengapa Ahok yang pada masa sebelum pilkada punya elektabilitas tinggi merosot
tajam dan akhirnya dikalah oleh si ‘pendatang baru’ ,ada baiknya jika kita
bernostalgia dan kembali ke tiga tahun yang lalu melihat proses pilpres 2014
untuk melihat benang merahnya.
Pada pilpres 2014 lalu pemungutan
suara yang dilakukan diseluruh Indonesia pasangan calon presiden nomer urut
satu Prabowo-Hatta unggul di provinsi :Aceh, Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka
Belitung, Gorontalo, Riau,Jawa Barat, Banten, Maluku Utara, Nusa Tenggara
Barat, Kalimantan Selatan,dan Sumatera Barat. Pasangan Jokowi-JK unggul di
provinsi : Kalimantan Barat, Kalimantan
Tengah, Jawa Timur,Jawa Tengah,Kalimantan Timur, Nusa Tenggara Timur, Papua, Papua
Barat,Lampung,Sumatera Utara,Sulawesi Selatan,Sulawesi Utara,DKI
Jakarta,Maluku,Bali,Sulawesi Barat. Jika jeli dan berani membuat kesimpulan provinsi yang banyak mendukung
Prabowo adalah provinsi yang terdapat kantong muslim terbesar dan mayoritas, sedangkan
yang mendukung Jokowi terdapat komposisi penduduknya yang muslim hampir
berimbang seperti Kalbar atau terdapat mayoritas Kristen seperti provinsi Nusa
Tenggara Timur,dan di sini terdapat pengecualian untuk provinsi Jawa Timur dan
Jawa Tengah karena terdapat ormas Islam moderat terbesar yaitu Nadhatul
Ulama(NU) yang secara serentak mendukung Jokowi-JK..
Berkaca dari hasil pilpres 2014 yang
menyisakan kekalahan bagi Prabowo-Hatta , pihak-pihak yang terlibat dalam tim
pemenangan Prabowo-Hatta berhasil merangkul kelompok Islam garis keras seperti
Front Pembela Islam (FPI) yang berhasil membangun opini di tengah-tengah
masyarakat bahwa pertarungan pilpres 2014 lalu adalah pertarungan antara Islam
konservatif (Prabowo-Hatta) vs Islam moderat (Jokowi-Jk),dan hal ini berlanjut
ke pertarungan pilkada DKI Jakarta yang mana salah satu calonnya yang juga
seorang pejabat petahana yaitu Basuki Tjahaja Purnama(Ahok) memiliki latar
belakang seorang Kristen dan terlahir dari etnis Tionghua, latar belakang
seorang Ahok terlahir sebagai Kristen dan Tionghua inilah yang seringkali
menjadi bulan-bulanan dari kelompok Islam garis keras seperti FPI untuk melegitimasi seorang Ahok sebagai kafir
serta pemberian label non pribumi yang tidak pantas untuk memimpin Jakarta yang
mayoritas berpenduduk Muslim. FPI dengan pimpinannya Habib Rizieq Syihab
semakin menjadi-jadi ketika Ahok ‘keseleo lidah’ tentang Surat Al-Maidah 51
yang berujung proses pengadilan pada diri Ahok, dan hari ini pada tanggal 9 Mei
2017 setelah melewati berbagai proses persidangan Ahok akhirnya divonis 2 tahun
penjara oleh Hakim Pengadilan Negeri Jakarta dan langsung diperintah untuk
ditahan, sampai tulisan ini saya
selesaikan pendukung dari Ahok masih menunggu di luar LP Cipinang untuk meminta
Ahok berorasi .
Demokrasi yang sehat adalah ketika
kita mampu mengesampingkan perbedaan ras,agama,golongan
dan mampu untuk menjunjung tinggi nilai sportivitas. Ketika demokrasi sudah
dirasuki isu sentimen antar ras, agama,dan golongan maka yang dihasilkan adalah
birokrasi yang tidak sehat. Di sini kita bisa melihat sejak Pilpres 2014 lalu
hingga Pilkada DKI Jakarta kemarin masyarakat kita terpecah menjadi dua
kubu,pihak yang satu gemar berkata kafir atau syiah
dan pihak yang lain gemar berkata onta
arab,mungkin saja istilah kafir/cebong dan onta
arab akan terus berlanjut hingga pilpres 2019 nanti,semoga saja tidak.
Maguwoharjo,Sleman,Yogyakarta 05 Mei 2017.
Komentar
Posting Komentar